GORONTALO, mimoza.tv – Setelah sempat mengalami deflasi pada Mei 2026, laju inflasi di Provinsi Gorontalo kembali melonjak pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) mencapai 2,11 persen, menjadi salah satu lonjakan tertinggi sepanjang semester pertama tahun ini.
Data tersebut dipaparkan Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, M.Stat., dalam rilis resmi di Ruang Vicon Kantor BPS Provinsi Gorontalo, Rabu (1/7/2026).
Selain inflasi bulanan, BPS juga mencatat inflasi tahun ke tahun (year-on-year/y-on-y) sebesar 4,77 persen, sementara inflasi tahun kalender (Juni 2026 terhadap Desember 2025) mencapai 3,27 persen.
Agus Sudibyo menjelaskan, lonjakan inflasi Juni terutama dipicu kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Inflasi bulan Juni 2026 sebesar 2,11 persen terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi mencapai 1,94 persen. Artinya, kelompok ini menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan harga di Gorontalo,” ujar Agus Sudibyo.
Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar Jika ditelusuri hingga tingkat komoditas, cabai rawit menjadi penyebab utama lonjakan inflasi Juni. Komoditas ini memberikan andil inflasi sebesar 0,66 persen.
Di bawahnya menyusul:
Bawang merah: 0,38 persen
Tomat: 0,22 persen
Beras: 0,19 persen
Ikan selar/ikan tude: 0,19 persen
Ikan layang/ikan benggol: 0,13 persen
Bensin: 0,07 persen
Shampo: 0,05 persen
Ikan malalugis/ikan sorihi: 0,05 persen
Daun bawang: 0,04 persen
Menurut Agus, dominasi komoditas pangan menunjukkan bahwa gejolak harga kebutuhan pokok masih menjadi faktor paling menentukan pembentukan inflasi di Gorontalo.
“Komoditas hortikultura seperti cabai rawit, bawang merah, dan tomat memberikan tekanan yang cukup besar terhadap inflasi Juni. Kenaikan harga pangan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi perkembangan inflasi daerah,” katanya.
Sejumlah Komoditas Justru Menahan Laju Inflasi Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, terdapat sejumlah komoditas yang justru mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi.
Komoditas penyumbang deflasi terbesar meliputi:
Daging ayam ras: -0,05 persen
Ikan mujair: -0,04 persen
Telur ayam ras: -0,03 persen
Ikan asap: -0,03 persen
Emas perhiasan: -0,03 persen
Popok bayi sekali pakai: -0,03 persen
Bahan bakar rumah tangga: -0,02 persen
Ketimun: -0,02 persen
Parfum: -0,02 persen
Sandal anak: -0,01 persen
Meski demikian, penurunan harga beberapa komoditas tersebut belum mampu mengimbangi tekanan inflasi dari kelompok pangan.
Inflasi Tahunan Tembus 4,77 Persen Secara tahunan, inflasi Gorontalo tercatat 4,77 persen. Lagi-lagi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 3,34 persen terhadap inflasi umum.
Selain kelompok pangan, beberapa kelompok pengeluaran lain juga mencatat kenaikan harga, di antaranya:
Transportasi: 3,53 persen (andil 0,37 persen)
Perawatan pribadi dan jasa lainnya: 7,45 persen (andil 0,57 persen)
Penyediaan makanan dan minuman/restoran: 3,33 persen (andil 0,22 persen)
Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga: 1,69 persen (andil 0,25 persen)
Rekreasi, olahraga, dan budaya: 2,78 persen
Pendidikan: 2,05 persen
Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi tahunan sebesar -2,29 persen, menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang mencatat penurunan harga cukup signifikan.
Bawang Merah dan Emas Dominasi Inflasi Tahunan Dalam periode Juni 2025 hingga Juni 2026, bawang merah menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,48 persen.
Selanjutnya diikuti oleh:
Emas perhiasan: 0,47 persen
Beras: 0,41 persen
Tomat: 0,38 persen
Ikan selar/ikan tude: 0,36 persen
Di sisi lain, komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan terbesar antara lain:
Terong: -0,07 persen
Air kemasan: -0,07 persen
Sandal anak: -0,04 persen
Telur ayam ras: -0,03 persen
Parfum: -0,03 persen
Berbalik Tajam Setelah Deflasi Mei Pergerakan inflasi sepanjang 2026 menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Setelah mengalami inflasi 0,28 persen pada Januari, 0,83 persen pada Februari, 0,24 persen pada Maret, dan 0,74 persen pada April, Gorontalo justru mengalami deflasi 0,96 persen pada Mei.
Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pada Juni, inflasi langsung melonjak menjadi 2,11 persen, menandakan tekanan harga kembali meningkat, terutama dari komoditas pangan.
“Perkembangan inflasi bulan ke bulan menunjukkan adanya dinamika yang cukup tinggi. Setelah terjadi deflasi pada Mei, Juni kembali mencatat inflasi yang cukup besar, terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas pangan,” tutup Agus Sudibyo.
Penulis: Lukman



