GORONTALO, Mimoza.tv – Kerusakan tiga jembatan penghubung antar wilayah di kawasan Kelurahan Biawu dan Biawao, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, menjadi perhatian anggota DPRD Kota Gorontalo, Heriyanto Thalib, Kamis (5/11/2026).
Persoalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur biasa. Sebab, jembatan tersebut merupakan akses vital bagi aktivitas ekonomi, mobilitas warga, hingga kebutuhan masyarakat untuk beribadah dan mengakses pendidikan.
Heriyanto mengungkapkan, terdapat tiga jembatan yang hingga kini mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan serius dari Pemerintah Kota Gorontalo. Ketiganya meliputi jembatan penyeberangan orang yang menghubungkan Kelurahan Biawu dan Biawao, jembatan di kawasan Pasar Jajan, serta jembatan menuju permukiman warga yang menjadi akses ke masjid dan sekolah.
Ironisnya, menurut Heriyanto, kerusakan tersebut telah berlangsung sejak 2019. Namun, hingga kini belum ada perbaikan menyeluruh yang dilakukan pemerintah.
Salah satu titik yang menjadi sorotan adalah jembatan penyeberangan orang antara Kelurahan Biawu dan Biawao, yang selama ini menjadi akses masyarakat menuju Pasar Beringin Biawu.
Begitu pula jembatan penghubung Kelurahan Biawu menuju kawasan Pasar Jajan di Kelurahan Biawao. Keberadaan kedua akses tersebut memiliki nilai strategis bagi perputaran ekonomi masyarakat setempat.
“Jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi, akses ini sangat dibutuhkan warga. Sehingga perlu ada perhatian dari pemerintah kota,” tegas Heriyanto.
Politisi yang duduk di Komisi I DPRD Kota Gorontalo dari Daerah Pemilihan I, meliputi Kecamatan Kota Selatan, Hulonthalangi, dan Dumbo Raya itu juga menyoroti dampak kerusakan terhadap aktivitas sosial masyarakat.
Sebab, fungsi jembatan tidak hanya sebatas penghubung kawasan perdagangan, tetapi juga menjadi jalur warga menuju tempat ibadah dan sekolah.
Lebih memprihatinkan, warga terpaksa melakukan penanganan secara swadaya dengan memasang papan untuk menutupi bagian lantai jembatan yang berlubang. Langkah darurat tersebut dilakukan demi mengurangi risiko kecelakaan saat jembatan masih digunakan.
Namun, pemasangan papan tentu bukan solusi permanen. Apalagi, jembatan tersebut setiap hari digunakan masyarakat yang membutuhkan akses aman untuk beraktivitas.
Heriyanto mengingatkan, pemerintah tidak boleh menunggu sampai terjadi kecelakaan atau jatuhnya korban sebelum mengambil tindakan.
“Jangan sampai sudah ada korban baru melakukan perbaikan,” ujarnya.
Persoalan tiga jembatan ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya organisasi perangkat daerah (OPD) yang membidangi pekerjaan umum dan infrastruktur.
Kerusakan yang disebut telah berlangsung sejak 2019 membutuhkan penjelasan terbuka.
Heriyanto berharap pemerintah kota segera memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi risiko saat menggunakan fasilitas penghubung yang menjadi kebutuhan sehari-hari.



